Rabu, 18 September 2013

Manusia dan Jalan Abu-Abunya



­­­
Dia…
Dia manusia…
Manusia yang selalu melihat ke depan
Manusia yang hanya melihat jalan lurus di depan nya
Hanya melihat apa yang ada di hadapan nya

Kadang  ia melewati sebuah persimpangan
Persimpangan yang mungkin asing baginya
Persimpangan yang bahkan ia tak tahu arah mana yang paling benar
Sempat ia menengok…
Tapi hanya menengok...
Ia tetap lurus pada jalan di depan nya

Sesekali ia mendengar seseorang memanggilnya
Suara seseorang  yang entah dari arah mana berasal
Suara yang mungkin dia kenal
Memanggil dan trus memanggil
Tapi ia tetap berjalan
Hanya sedetik ia memelankan langkah kakinya
Dan tak mencoba untuk menoleh ke samping atau ke belakang

Beribu persimpangan akhirnya telah ia lewati
Semakin jauh, ya semakin jauh
Semakin menemukan cahaya
Ia semakin berlari dan mempercepat langkahnya
Berharap cahaya surya ada di depan sana
Kini suara seseorang yang tadi memanggil semakin memudar,
memudar  hingga perlahan hilang

Ketika ia telah berada tepat di mulut goa
Bukan… itu bukan mulut goa yang sebenarnya
Tak ada sang surya di depan sana
Dia hanya tertipu,
Tertipu oleh cahaya lampu yang sempat membutakan matanya

Kini hanya penyesalan yang ia temui
Menyesal karena tak melihat sisi lain di hidupnya
Dia hanya focus pada jalan semu yang abu abu
Yang akhirnya tak bisa memundurkan langkahnya
Dan kembali melihat arah lain di persimpangan
Menemukan seseorang  itu yang mungkin akan menuntunnya
Menuntun ke jalan yang sebenarnya, menemui sang surya

Ia memanggil manggil seseorang itu
Berharap datang dan mendengar suaranya
Memeluk erat dari kebutaan di matanya
Tapi itu percuma…
Seseorang itu telah pergi dan menemukan sang suryanya sendiri
Sekarang ia sendiri, mengusap air matanya sendiri dari cahaya lampu ini

Tidak ada komentar:

Posting Komentar